Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

Mar Alamsyah Sutan Daulat

Blog EntryNov 5, '08 11:27 AM
for everyone
Istana / Rumah Gadang yang tak bergonjong :

Tak banyak yang tahu dimana itu Lunang, dan tidak pula banyak yang menulis sejarah tentang Lunang, apa yag mearik dari Lunang. Memang diakui Lunang masih jauh dari pengetahuan masyarakat Sumatera Barat. Sejarah masa lalu yang yang memaksa lunang harus disembunyikan. Sejarah tentang nagari Lunang baru terkuak ke publik baru pada awal tahun 80-an dengan diresmikannya “Rumah Gadang Mande Rubiah” sebagai Museum Lokal di Sumatera Barat dan wisata Budaya oleh Bapak Azwar Anas (Gubernur Sumbar).
Dimana itu Lunang...?
Lunang merupakan salah satu nagari dari 37 nagari (secara adat) di Kabupaten Pesisir Selatan/pasisie yang secara administrasi masuk dalam wilayah Kecamatan Lunang Silaut. Kecamatan ini merupakan kecamatan paling selatan Prov. Sumbar dan berbatasan dengan Kabupaten Mukomuko Prov. Bengkulu. Jarak tempuh dari :
- Dari Kota Padang : ± 232 km
- Dari Kota Painan : ± 160 km
- Dari Tapan : ± 18 km
- Dari Kota sungai penuh , Kerinci : ± 65 km
- Dari Mukomuko : ± 60 km

Apa yang menarik dari yang namanya Lunang..?
Secara geografis lunang sangat jauh dari jangkauan masyarakat Minangkabau Sumatera Barat, apalagi dari wilayah Darek, sehingga keberadaan sejarah Lunang banyak yang tidak tahu. Boleh dikatakan lebih dulu diketahui oleh masyarakat di Kabupaten Mukomuko(bengkulu) dan Kerinci(Jambi). Walaupun kedua daerah ini terpisah secara adminstrasi pemerintahan, namun mereka mempunyai sejarah yang satu rumpun dengan kerajaan di Pesisir Selatan dahulunya yaitu kerajaan Inderapura (runtuh sekitar tahun 1792 ) terutama masyarakat Mukomuko yang dilihat secara bahasa dan adat yang dipakai sama dengan masayarakat Lunang, Tapan, Inderapura, dan silaut.
Di Nagari Lunang terdapat 8 suku, sehingga penghulu Suku yang bergelar Datuak di Lunang dikenal dengan sebutan panghulu nan salapan. Suku- suku tersebut terdiri dari :
• Malayu
• Malayu Durian (dikenal juga dengan malayu rajo)
• Malayu Gadang Ranatu Kataka
• Malayu Gadang Kumbuang
• Malayu Tangah
• Malayu Kecik
• Caniago Mangkuto
• Caniago Patih
Secara adat, lunang memadukan antara dua keselarasan Koto Piliang dan Bodi Caniago, Sejarah Lunang memang sangat menarik untuk diketahui, mulai dari kultur masyarakatnya (terutama bahasa) yang berbeda –bahasa lunang hampir sama dengan bahasa indrapura, mukomoko bengkulu - dengan masyarakat Minang pada umumnya juga masalah Rumah Gadang yang tidak punya gonjong. Selain itu juga sebuah komplek pemakaman raja-raja (tampat) Lunang mulai dari raja perempuan Minangkabau, Bundo Kanduang sampai pewarisnya yang ke-tujuh (labai daulat). sekarang pewarisnya bergelar Mande Rubiah.
Putra-putra Mande Rubiah :
1) Mar Alamsyah, Sutan Daulat, SSTP
2) Zulrahmansyah, Daulat Rajo Mudo, SS
3) Noval Nofriansyah
4) Marwansyah
5) Zaitulsyah
6) Heksa Rasudarsyah
7) Naura Puti Kabarasti



Dilunang ada komplek makam –disebut dengan tampat – Bundo Kanduang. Dalam komplek inti ada makam Bundo Kanduang dan pewaris-pewarisnya yaitu : Dang Tuangku, Puti Bungsu, ,Mande Rubiah Tuo, Labai Daulat. Sedangkan kompleks diluarnya terdapat makam-makam kelerga terdekat. Kompleks makam ini terletak 200 m sebelah utara Rumah Gadang Mande Rubiah. Selain itu juga ada makam Cindur Mato/Cindua Mato 100m disebelah barat Rumah Gadang Mande Rubiah. Dalam rumah gadang terdapat benda2 pusaka peninggalan bundo dan keturunannya, diantaranya, senjata tajam (keris, pedang, tombak, senapan), perhiasan (gelang,kalung, baju kebesaran), penglengkapan rumah tangga (sanduak/sendok,carano/tempat sirih,dulang). Selain itu juga ada telur besar yang dinamakan telur garudo dan tanduk kerbau yang dipajang pada tiang-tiang rumah gadang.
Rumah gadang ini tidak seperti lazimnya rumah gadang di sumatera barat, karena secara fisik sangat berbeda. Pertama, atap tidak bergonjong walaupun dahulunya sama-sama berasal dari ijuk. Kedua, dindingnya tidak terbuat dari kayu yang mempunyai ukiran-ukiran bagus dan mahal, tetapi hanya dari kulit kayu yang berwarna agak kecoklatan. Ketiga, tidak ada pembagian ruangan secara spesifik, hanya ada 3 ruangan, ruangan depan yang memanjang dari timut ke barat (tempat menyimpan benda-benda pusaka) yang merupakan ruangan tempat rapat ninik mamak serta elemen nagari setiap hari kedua Idul fitri. Ruangan kedua yang berada bagian selatan yang juga menyimpan barang-barang pusaka, dalam acara adat biasanya tempat duduk para ibu-ibu. Dan ruangan ketiga adalah sebuah kamar kecil yang tidak satupun orang boleh memasukinya, kecuali mande rubiah.
Mengapa rumah ini berbeda? Keberadaan rumah ini sebenarnya tidak lepas dari sejarah mihrabnya/perjalanan Bundo kanduang beserta pewarisnya dari Pagaruyung menuju -- banyak diceritakan dalam kaba dan banyak diyakini orang ke langit -- ke Lunang. Bundo kanduang bukan sengaja menyembunyikan identitas secara luar tanpa menghilangkan nilai budaya yang ada. Walaupun tidak ada istana megah namun namanya masih tetap eksis dengan sebutan lain mande rubiah. Tuahnya sebagi raja masih melekat, walupun tidak duduk disingasana dan menyusun strategi, namun tuah itu ada dalam bentuk tempat meminta nasehat dan tempat menanyakan obat-obat. Bahkan tuah ini sampai pewaris ke 8 (rakinah) masih ada. Maka untuk menyembunyikan identitas tadi bundo kanduang serta pewarisnya membuat sebuah istana kecil yang tidak bergonjong. Zaman ini lunang disebut sebagai bilik/kamar dalam, sedangkan kerajaan inderapura disebut ruangan luar, karena memang bundo kanduang mendapat perlindungan dari raja-raja Inderapura. Maka sejak itu keberadaan rumah gadang mande rubiah ini sengaja disembunyikan dan tidak banyak diketahui orang khususnya oleh daerah pagaruyung.
eksistensi mande rubiah dan apa saja bentuk-bentuknya di nagari lunang :
1. Tempat meminta nasehat dari penghulu suku. Jika ada suatu perundingan yang sudah disepakati oleh penghulu, maka tempat terakhir yang dimentakan pendapatnya – minta persetujuan –adalah mande rubiah.
2. Jika ada pasangan yang mau melangsungkan helat pernikahan, maka sebelum nikah terlebih dahulu di limau –mandi dengan ramuan dari jeruk- di sungai lunang oleh mande rubiah.
3. Rumah gadang ini dugunakan juga untuk acara maulid nabi, menyambut bulan puasa.
4. Dll..


















































Attachment: Catatan Sejarah.docx

Blog EntryNov 5, '08 11:02 AM
for everyone
Cerita singkat* :
“MANDE RUBIAH” DI LUNANG SILAUT (PESSEL) HUBUNGANNYA DENGAN BUNDO KANDUANG DI KERAJAAN PAGARUYUNG

Nama Mande Rubiah dan Bundo kanduang menjadi panutan bagi sebagian besar masyarakat Minang, mande Rubiah atau Bundo Kanduang menjadi teladan dalam bersikap dan bertingkah laku dalam kehidupan sehari-hari. Istilah mande berasal dari sebuah profil seorang ibu yang ramah, pengasih, penyayang (sifat rabb yang menjadi rububiyah).
Mande Rubiah dan Bundo Kanduang sebenarnya adalah dua nama untuk satu orang. Bundo Kanduang adalah nama ketika berada di Pagaruyung, sedangkan Mande Rubiah merupakan nama setelah kembali kekampung asal, yaitu Lunang (hulu Indopuro). Maka perlu kita meninjau kembali kutipan dari Teks Hikayat Tuanku Nan Muda Pagaruyung, yang dikenal dengan kaba Cindua Mato, sebuah cerita klasik bernuansa sejarah kerajaan Pagaruyung di dalam Alam Minangkabau beberapa abad yang lalu.
Ketika sutan Rumandung yang bergelar Dang Tuangku, masih berumur 5 tahun dan Cindua Mato berumur 4 tahun 2 bulan, Basa Ampek Balai mengadakan pertemuan besar dibukit gombak, pada pertemuan ini, secara bulat dimufakati untuk mengangkat Romandung sebagai pemimpin Anjung Rajo Alam. Karena Romandung masih kecil maka dimufakati pula untuk mengangkat Kambang Daro Marani sebagai pelaksana tugas sehari-hari dari pimpinan Anjung Rajo Alam dengan gelar penghormatan Bundo Kanduang.
Masa ini pula dikenal dengan masa kejayaan kerajaan Pagaruyung, karena masyarakatnya hidup dengan makmur dan damai. Islampun telah menjadi panutan bagi masyarakat kalangan dalam istana.
Suatu hari di istana Pagaruyung, Setelah Dang Tuangku menginjak usia dewasa, Bundo Kandung memberi petuah tentang seluk-beluk pemerintahan, hukum, undang-undang, adat istiadat, serta pandangan hidup sebagai orang Minangkabau kepada Dang Tuanku, putra tunggalnya. Saat ini pula Dang Tuangku diangkat sepenuh untuk duduk di singasana menjadi pimpinan Anjung Rajo Alam yang bergelar Tuangku Syah Alam. Oleh Bundo Kandung, Dang Tuanku kemudian diperintahkan menghadiri gelanggang yang diadakan oleh Datuk Bandaro di Sungai Tarab dengan membawa serta Cindua Mato, anak Kambang Bandoari, untuk ditunangkan dengan Puti Lenggo Geni, putri Datuk Bandaro.
Di Sungai Tarab, Cindua Mato mendapat berita dari Si Langkaneh dan Lalaik Tuo, pedagang keliling, bahwa Puti Bungsu, tunangan Dang Tuanku, anak Tuanku Rajo Mudo di Ranah Sikalawi, segera dikawinkan dengan Rangkayo Imbang Jayo, Raja Tanjung Sungai Ngiang. Menurut kabar, diterimanya lamaran Rangkayo Imbang Jayo oleh Tuanku Rajo Mudo disebabkan Dang Tuanku diserang penyakit kulit lalu diasingkan di sebuah pondok di tepi sungai.
Dang Tuanku, Cindua Mato, dan Bundo Kandung sangat terhina dan marah kepada Tuanku Rajo Mudo yang merupakan adik kandung Bundo Kandung sendiri. Karenanya, Bundo Kandung dan keluarga istana Pagaruyung mengadakan rapat besar yang dihadiri oleh Basa Ampek Balai serta Raja Dua Selo. Di dalam rapat diputuskan bahwa Cindua Mato diutus ke Ranah Sikalawi untuk membawa Si Binuang, kerbau istana, sebagai tanda turut gembira karena Puti Bungsu telah mendapatkan jodohnya, tetapi sekaligus sebagai ungkapan rasa sedih karena perjodohan antara Puti Bungsu dengan Dang Tuanku dihancurkan secara sepihak oleh Tuanku Rajo Mudo.
Di luar sepengetahuan Bundo Kandung dan para pembesar Alam Minangkabau, Cindua Mato memperoleh perintah dari Dang Tuanku untuk membawa Puti Bungsu ke Pagaruyung dalam keadaan serta cara bagaimana pun juga.
Melalui cara yang licin, menjelang pernikahannya dengan Rangkayo Imbang Jayo, Puti Bungsu akhirnya “dilarikan” Cindua Mato ke istana Tuan Kadhi di Padang Ganting sebelum kemudian diantarkan ke Pagaruyung. Untuk menghindari kejaran Rangkayo Imbang Jayo, maka Cindua Mato di suruh menghindar ke pantai barat, di hulu batang aia Indopuro yaitu Lunang, Sambil menyelidiki tempat yang akan dijadikan oleh Bundo Kanduang, Dang Tuangku, Puti Bungsu dan perangkat istana lainnya sebagai tempat mengirab.
Karena Cindua mato telah melarikan Puti Bungsu yang akan dinikahkan dengan Rangkayo Imabang Jayo dari Ranah Sikalawi, maka Rangkayo Imbang Jayo malu dan marah sekali, lalu menyerang Pagaruyung, akan tetapi dalam penyerangannya Rangkayo Imbang jayo tewas terbunuh oleh rajo duo selo di dalam pertempuran.
Tiang Bungkuk, ayah Rangkayo Imbang Jayo menuntut balas atas kematian anaknya. Bersama pasukan yang besar, Tiang Bungkuk menyerang Pagaruyung. Untuk menghindari perang dan pertumpahan darah yang lebih besar lagi yang akan mengorbankan banyak rakyatnya, maka Bundo Kandung, Dang Tuanku, dan Puti Bungsu yang sudah menjadi istrinya, meninggalkan Pagaruyung dan mengirab ke tanah asal yaitu di Lunang. Untuk mengihindari kejaran Tiang Bungkuk dan pengikutnya maka dibuatlah suatu berita bahwa Bundo Kandung, Dang Tuangku, Puti Bungsu terbang kelangit.
Cindu mato diperintah oleh Dang Tuangku untuk tetap tinggal di istana, dan Dang Tuangku memberi petunjuk kepada Cindua mato untuk “menyerah” kepada Tiang Bungkuk, lalu Cindua Mato dibawa ke Tanjung Sungai Ngiang untuk menjadi orang suruhannya. Setelah mempelajari kelemahannya, Cindua Mato akhirnya dapat mengalahkan Tiang Bungkuk.

*Zulrahmansyah Daulat Rajo Mudo (putra kedua Mande Rubiah)





















Attachment: istana mande rubiah.JPG